Pemuda itu bernama Arin, sosok yang sudah di kenal baik oleh
masyarakat bantaran sungai Bengawan Solo Bojonegoro, wajahnya rupawan juga budi
luhurnya. Banyak yang sudah mengakui hal itu termasuk Gumay sahabatnya.
Pagi
itu gumay terlihat sedang berbicara serius dengan Arin, dia berencana meminta
bantuan pada Arin untuk membuat sebuah pesta
menyambut teman-teman Gumay yang berasal dari kota,
“Ayolah
Rin,masak kamu nggak mau?” rengek Gumay pada Arin
“Bukannya
aku tidak mau May, tapi kau tau sendiri bukan keadaan keluargaku, apakah pantas aku membantumu
membuat pesta,sementara keadaan keluargaku sedang susah?”
“Ah
terserah,pokonya kamu harus bantu aku.”
“Ya
sudahlah,mau tak mau aku harus membantumu.”
Pagi itu Arin berangkat kesiangan, langkah
Arin semakin cepat,keringat telah bercucuran di sepanjang tubuh semampainya,
sesekali tangannya mengelap keringat yang terus meluber dari tubuhnya, dan akhirnya
ia pun tiba di sekolah,meskipun ia terlambat masuk sekolah.
“Eh
dari mana kamu, baru nongol jam segini?”
Tanya Riska teman sebangkunya
“Ah
nggak kok, lagi ada sedikit masalah.”
Tiba-tiba bu Rahmi datang dan memberitahu pada semua murid
jika ada seorang murid baru yang akan bergabung di kelas mereka
“Anak-anak
kenalkan ini teman baru kalian.” Ucap bu
Rahmi
“Baiklah
Azizah kamu boleh mengenalkan dirimu pada teman-teman barumu.” Tambah pak
kepala sekolah
“Nama
saya Azizah, lengkapnya Lailatul Azizah Ramadhani, saya berasal dari selatan
Bojonegoro.”
Semua siswa bersorak,sementara pak kepala sekolah dan bu
Rahmi pergi untuk ke pendopo kabupaten menghadiri sebuah rapat.
Hari-hari
berlalu dan membuat Arin semakin dekat dengan Azizah, dan membuat Arin mulai
menaruh hati pada wanita berwajagh cantik itu,begitu pun sebaliknya Azizah juga
semakin tertarik dengan Arin saat pertemuan pertama mereka.
Siang
ini Arin Nampak tergesa-gesa menuju ke gubuk tempat biasa ia dan Gumay bertemu,
Arin memang sudah membuat janji dengan Gumay untuk bertemu dan membahas
mengenai pesta penyambutan teman-teman Gumay.
“Maaf
may, telat.” Sapa Arin dengan nafas yang masih terputus-putus
“Kamu
dari mana?” Tanya Gumay sinis
“Aku
tadi ke rumah sakit, bapakku jatuh dari genteng saat membnerkan anten
tetangga.”
“Lalu
gimana keadaan bapakmu? Kenapa pula kamu malah kemari?”
“Aku
kan sudah berjanji padamu May, janji itu tak boleh di ingkari.”
“Sudahlah,
ayo ku antar kau kerumah sakit.”
Beberapa
hari kemudia pesta itu di mulai, teman-teman Gumay sangat menyukai acara yang
telah di susun oleh Arin, terlebih ide Arin yang sangat cemerlang mengenai
arisan pengadaan penghijauan di kawasan bantaran sungai bengawan solo,namun
hari itu pula Arin harus menerima kenyataan jika ayahnya kang Akhsim telah meninggal dunia, akibat insiden jatuh dari atap
rumah tempo hari. Kini kehidupan Arin dan ibunya bertamabha susah saja, apalgi
saat ini Arin sudah naik ke kelas 12.
Siang
itu hujan turun sangat deras, dan menandakan akan terjadi banjir bandang, Arin
dan ibunya memutuskan untuk mengungsi di rumah saudara mereka yang bernama Rindri, namun saying ketika
sampai di tempat itu Rindri telah pergi dan mengosongkan rumahnya, tapi ada
seorang tetangga Rindri yang berbaik hati kepada bu Hanifah dan Arin, Bu Ratna
lalu menawarkan tempat tinggalnya untuk di huni sementara oleh mereka. Menurut
cerita bu Ratna, adik ipar bu Hanifah itu merantau ke batu Ampar untuk mencari
penghidupan yang lebih baik.
Hari
demi hari berlalu, menurut pemberitaan banjir itu telah menenggelamkan rumah bu
Hanifah hingga setinggi dada orang dewasa. Nanar rasanya bu Hanifah meratapi
takdir yang membelenggunya, ia lantas berdoa pada Tuhan agar banjir itu segera
surut.
Tak
terasa sudah satu bulan bu Hanifah tinggal di rumah Bu Ratna, Arin sudah
terlebih dahulu kembali ke Bojonegoro karena sebentar lagi ia akan mengahadapi
ujian kelulusan kelas. Sementara bu Hanifah tetap tinggal di rumah bu Ratna.
Pagi itu bu Ratna mengajak bu Hanifah ke Surabaya untuk belanja pakain yang
akan di jual bu Ratna, tapi bu Ratna malah membawa bu Hanifah ke tempat
prostitusi dengan dalih akan mempekerjakan bu Hanifah yang memng saat ini
sedang mencari perkerjaan sebagai tukang sablon di sana.
Bu
Hanifah sama sekali tak curiga dengan bu Ratna, hingga suatu hari bu Ratna
mendapat surat dari Rindri, bu Hanifah yang penasaran mencoba menyelidiki surat
itu, dan di dapatilah kebohongan Rindri tentang keberadaannya yang ternyata
berada di daerah Malang, bukannya di Batu Ampar, dengan sabar bu Hanifah
menjelaskan tentang keberadaan Rindri selama ini, bu Ratna akhirnya sadar
selama ini telah di tipu oleh Rindri, ia pun akhirnya meminta maaf pada bu
Hanifah.
Pagi
itu bu Hanifah kembali ke Bojonegoro, dia sudah sangat rindu pada Arin
anakanya. Setelah Arin lulus, ia dan bu Ratna memutuskan untuk pindah ke
Surabaya dan menetap di sana, kebetulan Arin mendapat beasiswa dari sebuah
perusahaan farmasi agar ia melanjutkan sekolahnya di Surabaya, di kota itu bu Hanifah bersama Arin memulai
kehidupan barunya, dengan membuka usaha warung
keremes ayam kampong, bu Hanifah berusaha memenuhi kebutuhan hidup
mereka. Semakin hari warung yang di
kelola bu Hanifah semakin ramai pula, hingga tak terasa hamper 4 tahun mereka
menetap di sana, sebentar lagi Arin akan lulus dan di wisuda.
Sebelum
lulus Arin akan di kirim ke Medan untuk menjalani training selama 3 bulan, ia harus meninggalkan bu Hanifah, Ratih
sang kekasih dan sahabat-sahabatnya. Di
perusahaan farmasi tempatnya magang, Arin banyak tak di sukai oleh
karyawan setempat, mungkin karena ia adalah anak baru yang sangat di banggakan
oleh atasan mereka, namun inilah ketabahan dan kesabaran luar biasa yang d
tunjukkan oleh Arin, hingga ia pun dinyatakan lulus training dan akan di terima
di perusahaan itu setelah ia di wisuda.
Arin bahagia karena ia telah kembali ke Surabaya dengan
perasaan yang membuncah di dadanya, namun sekali lagi kebahagiaannya telah
sirna karena sang kekasih hati telah meninggalkannya untuk menikah dengan pria
yang sangat di kenal oleh Arin, sekali lagi mungkin Arin adalah manusia yang
luar biasa sabarnya, ia sama sekali tak menuntut bahkan marah, denga segenap
kemampuannya ia mengiklaskan Ratih untuk orang lain, sama seperti saat ia
mengiklaskan Azizah yang pergi sesaat setelah dia bertemu dengan Azizah yang
sempat bekerja di sebuah warung makan
tempat ia dan ibunya makan dulu.
Wisuda
yang sangat di annti Arin pun tiba, ia adalah lulusan terbaik dengan segala
prestasi yang telah di raihnya, IP yang mencapai angka 3,98 nyaris sempurna
bukan. Dengan segenap perasaan Arin berdiri memberikan pidato kelulusan, yang
juga di hadii oleh ibunya, bu Hanifah manusia yang berdiri di balik kesuksesan
Arin. Bu Hanifah tersenyum bangga pada Arin, yang saat ini telah membuat
hatinya berbunga dan bahagia.