aristavee. Diberdayakan oleh Blogger.

About

selamat datang di Jejak Langkah Croix
RSS

catatan pendek novel kubah hati yang terkoyak oleh yudi sumardi

Pemuda itu bernama Arin, sosok yang sudah di kenal baik oleh masyarakat bantaran sungai Bengawan Solo Bojonegoro, wajahnya rupawan juga budi luhurnya. Banyak yang sudah mengakui hal itu termasuk Gumay sahabatnya.
                Pagi itu gumay terlihat sedang berbicara serius dengan Arin, dia berencana meminta bantuan pada Arin untuk membuat sebuah pesta  menyambut teman-teman Gumay yang berasal dari kota,
                “Ayolah Rin,masak kamu nggak mau?” rengek Gumay pada Arin
                “Bukannya aku tidak mau May, tapi kau tau sendiri bukan keadaan  keluargaku, apakah pantas aku membantumu membuat pesta,sementara keadaan keluargaku sedang susah?”
                “Ah terserah,pokonya kamu harus bantu aku.”
                “Ya sudahlah,mau tak mau aku harus membantumu.”
                 Pagi itu Arin berangkat kesiangan, langkah Arin semakin cepat,keringat telah bercucuran di sepanjang tubuh semampainya, sesekali tangannya mengelap keringat yang terus meluber dari tubuhnya, dan akhirnya ia pun tiba di sekolah,meskipun ia terlambat masuk sekolah.
                “Eh dari mana kamu, baru nongol jam segini?”  Tanya Riska teman sebangkunya
                “Ah nggak kok, lagi ada sedikit masalah.”
Tiba-tiba bu Rahmi datang dan memberitahu pada semua murid jika ada seorang murid baru yang akan bergabung di kelas mereka
                “Anak-anak kenalkan ini teman baru kalian.”  Ucap bu Rahmi
                “Baiklah Azizah kamu boleh mengenalkan dirimu pada teman-teman barumu.” Tambah pak kepala sekolah
                “Nama saya Azizah, lengkapnya Lailatul Azizah Ramadhani, saya berasal dari selatan Bojonegoro.”
Semua siswa bersorak,sementara pak kepala sekolah dan bu Rahmi pergi untuk ke pendopo kabupaten menghadiri sebuah rapat.
                Hari-hari berlalu dan membuat Arin semakin dekat dengan Azizah, dan membuat Arin mulai menaruh hati pada wanita berwajagh cantik itu,begitu pun sebaliknya Azizah juga semakin tertarik dengan Arin saat pertemuan pertama mereka.
                Siang ini Arin Nampak tergesa-gesa menuju ke gubuk tempat biasa ia dan Gumay bertemu, Arin memang sudah membuat janji dengan Gumay untuk bertemu dan membahas mengenai pesta penyambutan teman-teman Gumay.
                “Maaf may, telat.” Sapa Arin dengan nafas yang masih terputus-putus
                “Kamu dari mana?” Tanya Gumay sinis
                “Aku tadi ke rumah sakit, bapakku jatuh dari genteng saat membnerkan anten tetangga.”
                “Lalu gimana keadaan bapakmu? Kenapa pula kamu malah kemari?”
                “Aku kan sudah berjanji padamu May, janji itu tak boleh di ingkari.”
                “Sudahlah, ayo ku antar kau kerumah sakit.”
                Beberapa hari kemudia pesta itu di mulai, teman-teman Gumay sangat menyukai acara yang telah di susun oleh Arin, terlebih ide Arin yang sangat cemerlang mengenai arisan pengadaan penghijauan di kawasan bantaran sungai bengawan solo,namun hari itu pula Arin harus menerima kenyataan jika ayahnya kang Akhsim telah meninggal dunia, akibat insiden jatuh dari atap rumah tempo hari. Kini kehidupan Arin dan ibunya bertamabha susah saja, apalgi saat ini Arin sudah naik ke kelas 12.
                Siang itu hujan turun sangat deras, dan menandakan akan terjadi banjir bandang, Arin dan ibunya memutuskan untuk mengungsi di rumah saudara mereka  yang bernama Rindri, namun saying ketika sampai di tempat itu Rindri telah pergi dan mengosongkan rumahnya, tapi ada seorang tetangga Rindri yang berbaik hati kepada bu Hanifah dan Arin, Bu Ratna lalu menawarkan tempat tinggalnya untuk di huni sementara oleh mereka. Menurut cerita bu Ratna, adik ipar bu Hanifah itu merantau ke batu Ampar untuk mencari penghidupan yang lebih baik.
                Hari demi hari berlalu, menurut pemberitaan banjir itu telah menenggelamkan rumah bu Hanifah hingga setinggi dada orang dewasa. Nanar rasanya bu Hanifah meratapi takdir yang membelenggunya, ia lantas berdoa pada Tuhan agar banjir itu segera surut.
                Tak terasa sudah satu bulan bu Hanifah tinggal di rumah Bu Ratna, Arin sudah terlebih dahulu kembali ke Bojonegoro karena sebentar lagi ia akan mengahadapi ujian kelulusan kelas. Sementara bu Hanifah tetap tinggal di rumah bu Ratna. Pagi itu bu Ratna mengajak bu Hanifah ke Surabaya untuk belanja pakain yang akan di jual bu Ratna, tapi bu Ratna malah membawa bu Hanifah ke tempat prostitusi dengan dalih akan mempekerjakan bu Hanifah yang memng saat ini sedang mencari perkerjaan sebagai tukang sablon di sana.
                Bu Hanifah sama sekali tak curiga dengan bu Ratna, hingga suatu hari bu Ratna mendapat surat dari Rindri, bu Hanifah yang penasaran mencoba menyelidiki surat itu, dan di dapatilah kebohongan Rindri tentang keberadaannya yang ternyata berada di daerah Malang, bukannya di Batu Ampar, dengan sabar bu Hanifah menjelaskan tentang keberadaan Rindri selama ini, bu Ratna akhirnya sadar selama ini telah di tipu oleh Rindri, ia pun akhirnya meminta maaf pada bu Hanifah.
                Pagi itu bu Hanifah kembali ke Bojonegoro, dia sudah sangat rindu pada Arin anakanya. Setelah Arin lulus, ia dan bu Ratna memutuskan untuk pindah ke Surabaya dan menetap di sana, kebetulan Arin mendapat beasiswa dari sebuah perusahaan farmasi agar ia melanjutkan sekolahnya di Surabaya,  di kota itu bu Hanifah bersama Arin memulai kehidupan barunya, dengan membuka usaha warung  keremes ayam kampong, bu Hanifah berusaha memenuhi kebutuhan hidup mereka. Semakin hari  warung yang di kelola bu Hanifah semakin ramai pula, hingga tak terasa hamper 4 tahun mereka menetap di sana, sebentar lagi Arin akan lulus dan di wisuda.
                Sebelum lulus Arin akan di kirim ke Medan untuk menjalani training selama 3 bulan, ia harus meninggalkan bu Hanifah, Ratih sang kekasih dan sahabat-sahabatnya. Di  perusahaan farmasi tempatnya magang, Arin banyak tak di sukai oleh karyawan setempat, mungkin karena ia adalah anak baru yang sangat di banggakan oleh atasan mereka, namun inilah ketabahan dan kesabaran luar biasa yang d tunjukkan oleh Arin, hingga ia pun dinyatakan lulus training  dan akan di terima di perusahaan itu setelah ia di wisuda.
Arin bahagia karena ia telah kembali ke Surabaya dengan perasaan yang membuncah di dadanya, namun sekali lagi kebahagiaannya telah sirna karena sang kekasih hati telah meninggalkannya untuk menikah dengan pria yang sangat di kenal oleh Arin, sekali lagi mungkin Arin adalah manusia yang luar biasa sabarnya, ia sama sekali tak menuntut bahkan marah, denga segenap kemampuannya ia mengiklaskan Ratih untuk orang lain, sama seperti saat ia mengiklaskan Azizah yang pergi sesaat setelah dia bertemu dengan Azizah yang sempat bekerja di  sebuah warung makan tempat ia dan ibunya makan dulu.

                Wisuda yang sangat di annti Arin pun tiba, ia adalah lulusan terbaik dengan segala prestasi yang telah di raihnya, IP yang mencapai angka 3,98 nyaris sempurna bukan. Dengan segenap perasaan Arin berdiri memberikan pidato kelulusan, yang juga di hadii oleh ibunya, bu Hanifah manusia yang berdiri di balik kesuksesan Arin. Bu Hanifah tersenyum bangga pada Arin, yang saat ini telah membuat hatinya berbunga dan bahagia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar