Capen dari novel Burung-Burung Manyar
karya Y.B Mangunwijaya
Aku adalah anak kolong ya anak kolong,
keturunan ningrat jawa. Mamiku bernama Marice seorang Indo Belanda,
dan papiku bernama kaptain Brajabasuki seorang kaptain KNIL keturunan
ningrat Jawa. Sebagai seorang anak kolong, aku hidup seenakku saja,
memusuhi bangsa sendiri, bukan karena apa-apa terlebih karena
dendamku pada Jepang sialan itu, yang membuat kehidupan keluargaku
hancur Jepang menangkap papiku dan menjadikan ibuku lonte .
beruntung aku masih memiliki keluarga Antana yang sudah
menganggapku sebagai bagian dari mereka, terlebih lagi bu Antana,
yang sudah ku anggap pengganti mamiku yang malang itu, dan juga Atik,
satu-satunya wanita yang menjadi penyemangat hidupku, bah barangkali
aku mencintainya.
Sepeninggalan mami, dan kabar yang ku
terima dari bu Antana jikalau mamiku itu telah meninggal karena
penyakit tifus,serta ketidak jelasan nasib papiku, akhirnya aku ikut
bersama Verbuggen, bajingan KNIL yang merupakan mantan kekasih
mamiku, benar dia bajingan tapi dia baik padaku, aku heran mengapa
mami lebih memilih papi yang tampangnya seperti orang bloon itu. Aku
menemui Verbuggen dengan membawa sepucuk surat dari mami
“Zo,zo Leo (aku mengaku sebagai Leo)
jadi kau membawa surat dari Merice? Apa isinya?”
“Silahkan buka sendri Mayoor. Maaf
saya pinjam golok.” Aku lantas membuka kancing celananku dan
mengeluarkan seikat kertas lalu ku serahkan padanya. Bandit tua itu
berbaik hati padaku, ia mengabulkan permohonanku untuk menjadi
anggota KNIL dengan pangkat Kaptain.
Kala menjadi kaptein KNIL aku sering
mengunjungi rumah Antana yang ada di daerah Kramat, ya rumah penuh
kenangan ini sudah terlihat kosong, ah rasanya aku merindukan Atik,
tapi mengingat aku dengannya adalah musuh, musuh dalam arti
berseberangan pendapa, Atikku kini sudah menjadi sekretaris kabinet
Syahrir, namun suatu saat akan ku buktikan jika akulah yang benar,
mereka telah merebut Atikku dan menghasutnya. Toh pada akhirnya
kebiasaanku itu di ketahui pula oleh NEFIS dan tentu saja bandit
Verbuggen itu, tapi dia juga tak menyalahkanku, malah ku rasa dia
mendukungku untuk bertemu kembali dengan Atik.
Saat terjadi perang kekuasaan antara
Indonesia dan Belanda di Yogya, pak Antana terbunuh, malang benar
nasibnya itu, tentulah pula sangat kasihan Larasati. Oh ya perlu di
ketahui bu Antana merupakan keturunan ningrat pula, sudah barang
tentu mereka berlindung di keraton di rumah kakak tirinya yang
seorang pangeran itu.
Akhir-akhir ini ku tangkap gelagat
aneh dari Verbuggen, dia sering pergi sendirian mengendarai jip
menuju daerah Magelang, bukankah tidak baik jikalau seorang Mayoor
sering pergi sendiri di saat perang seperti ini, tanpa banyak pikir
suatu hari ku ikuti Verbuggen dengan Jip juga, hingga akhirnya ku
ketahui dan dia sendiri yang mengatakan padaku jika mamiku masih
hidup, dan parahnya Jepang sialan itu membuat mamiiku gila, ya mami
di tempatkan di sebuah rumah sakit saraf dengan di rawat seorang
dokter yang sudah tua. Oh mamiku yang malang, mami hanya dapat
mengucapakan kata “ Aku sudah berikan segalanya, tapi mereka
mengingkari janji” berulang kali mami hanya mengucapkan itu, hatiku
hancur melihat mami semalang itu, benar-benar kurang ajar Jepang
sialan itu.
Sudah sekian lama aku tak pernah
bertemu dengan Atik,seperti apa rupanya saat ini? Aku ya aku adalah
sorang bandit KNIL pecundang yang tak berdaya untuk menemui Atik.
Bahkan setelah Belanda kalah aku lebih memilih pergi ke luar negri
dan meneruskan kuliah di Harvard, mamiku telah meninggal beberapa
tahun yang lalu, begitu pula Verbuggen, dia gugur di medan perang.
Oh ya, aku menikah dengan seorang
wanita bernama Barbara, dia adalah anak bosku di perusahaan minyak
Pacifik Oil Wells Company, sebenarnya aku menikahi wanita itu bukan
karena cinta, tapi ya untuk status saja, sebab tentulah cintaku hanya
untuk Larasati. Pada akhirnya Barbara menyadari juga, jika ia telah
hidup dengan seorang robot matematik bernama Dr. Setadewa, maka
berkahirlah pernikahanku dengan Barbara yang baru berumur 1 tahun
itu.
Aku kembali ke Indonesia dan mondok di
rumah seorang ningrat yang baik hati di daerah magelang. Suatu hari
aku mendengar Larasati akan di anugerahi gelar doktoranda, maka pada
acara pemberian gelar itu aku menghadirinya, awalnya aku ingin
menemuinya, tapi niat itu ku urungkan setelah ku dengar jawabannya
yang sangat cerdas tentang ilmu biologi terutama burung manyar. Atik
kini telah menikah dengan seseorang yang bernama Janakatamsi dan
memiliki 3 orang anak.
Pada suatu hari atik dan suaminya
datang ke tempat mondokku, dia memelukku dan seolah merindukanku,
Atik menangis sejadi-jadinya di pelukanku, suaminya begitu baik
mengizinkan Atik untuk memelukku. Atik dan Janakatamsi yang akhirnya
ku panggil dik Jana, mengajakku untuk tinggal di rumahnya, aku tak
dapat menolak, dan menurut kemauan mereka.
Suatu hari aku di panggil ke Jepang
dan di pecat dengan tidak hormat dari pekerjaanku, sebab ya aku
bersama dik Jana membongkar praktik kejahatan komputer yang merugikan
bangsa ini,sebagai seorang ahli komputer tak tegalah ku lihat
kejahatan mereka, begitu pula dik Jana dia juga di berhentikan dari
semua pekerjaannya di salah satu Universitas swasta, maupun di
laboraturium Geologi.
Barangkali saat itu adalah percakapan
terakhirku dengan Atik
“Mas Teto untung ya kita bukan suami
istri.”
“Kau omong aneh apa lag?”
“Tidak,kalau suami istri itu
datar-datar saja. Kalau mencintai yang bukan suaminya kok lebih hebat
rasanya.”
Ya ku ketahui juga ternyata selama ini
Atik mencintaiku, dia menungguku tapi karena kebodohanku dia menikah
dengan lelaki lain, mungkin sama denganku untuk mencari status,cinta
Atik pada akhirnya hanya untukku pula, begitu pun aku. Hingga Atik
dan dik Jana meninggal dalam perjalanan Haji, karena kecelakaan di
gunung Colombo. sejak saat itu aku mengadopsi ketiga anak Atik, Teto,
Padmi dan Kris, aku berterimakasih pada Atikku telah menghadiahiku
anak-anak yang baik itu, ku rasa mereka membutuhkan sosok ibu baru
seperti yang di anjurkan oleh sahabatku John Britney, tapi bu Atana
sudah cukuplah menjadi nenek sekaligus ibu bagi mereka. Ku akui citra
Atik masih sangat dalam di sejarah hidupku, hal yang ingin ku
tanyakan pada burung-birung manyar. Sayang sudah jarang ku lihat
mereka……






0 komentar:
Posting Komentar