aristavee. Diberdayakan oleh Blogger.

About

selamat datang di Jejak Langkah Croix
RSS

resensi buku sickened by julie gregory

Perlawanan Seorang Anak Yang Sengaja di Buat Sakit
Oleh :Arista vernanda fajarin

Judul Buka    : Sickened ( kisah nyata tentang seorang anak yang sengaja di buat sakit)
Penulis           : Julie Gregory
Penerbit        : PT.Gramedia Pustaka Utama
Cetakan         :  cetak ulang kedua :mei 2005
Tebal              : IX+278 halaman
            Buku Sickened merupakan buku memoar yang bercerita tentang kisah nyata seorang anak kasus munchausen by proxy  (MBP) yaitu sebuah kasus  seorang yang sengaja di buat sakit  oleh orang tuanya untuk mendapat perhatian dan simpati dari orang-orang di sekitarnya. Buku yang di tulis oleh  Juli Gregory ini  mengupas tentang  MBP yang kerap kali terjadi di sekitar kita. Julie Gregory mencoba menyadarkan tentang bahaya dan dampak MBP bagi kehidupan korbannya dan tindakan apa yang harus segera di lakukan sebelum korban MBP mengalami hal yang lebih buruk.
            Pembaca akan di bawa pada kisah seorang gadis kecil dari Ohio selatan Amerika yang bernama Julie Gregory, tentang bagaimana ia harus menjalani takdirnya sebagai seorang gadis penyakitan yang di takdirkan untuk mati muda, sakit yang sengaja di buat ibunya karena pengaruh masa lalu sang ibu yang begitu suram, hingga ia membutuhkan banyak perhatian dari orang sekitar dengan cara melakukan beberapa pengobatan dan tes medis terhadap Julie yang seharusnya tidak terjadi, pada kenyataannya Julie tidak pernah mengidap penyakit-penyakit yang di dindikasi oleh sang ibu. Melalui buku ini sang korban MBP Julie Gregory berusaha mengungkap takbir kelam kehidupannya atas semua hal yang harus di tanggungnya selama berpuluh puluh tahun, pencarian keadilan atas dirinya yang bahkan harus berurusan hukum dengan orang tuanya, Julie Gregory mengemas buku ini dengan sangat apik dan menghadirkan gaya bahasa serta alur cerita yang membuat si pembaca menantikan kelanjutan kisahnya.
            Julie Gregory, tokoh utama dalam memoir hidup di sebuah keluarga yang sangat keras, bersama kedua orang tua, adik dan anak-anak asuh orang tuanya, hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Memiliki jadwal rutin menjalani berbagai test medis atas dirinya ang tak pernah mengidap berbagai penyakit yang di indikasi orang tuanya. Gadis ini hidup dalam ketakutan sebagai gadis yang di takdirkan mati muda, berbagai operasi dan hal-hal menyeramkan telah ia lalui dengan deraian air mata, sayatan demi sayatan pisau pisau tajam telah berulan kali bersarang dalam tubuhnya sedari ia kecil hingga tumbuh dewasa. Bentuk perlawanan seorang gadis korban MBP ketika ia harus memilih antara menyadarkan orang tuanya atas perbuatan yang salah pada dirinya, namun ketika mereka tak kunjung mengerti, maka jalan hukumlah yang ia tempuh, meski ia akan di cap anak durhaka karena memenjarakan orang tuanya, ia tetap melakukannya demi terselamatkannya korban-korban MBP lain sebelum jatuh korban berikutnya, kerena di ketahui bahwa orang tua Julie akan mecari anak asuh baru untuk di jadikan korban berikutnya, ia dengan segenap keteguhan hati memberanikan diri keluar dari sekam-sekam dunianya yang menyeramkan tentang bagaimana banyak dokter yang tak mengetahui perbuatan kejam sang ibu kepadanya karena tidak dapat di sangkal bahwa apa yang dikatakan orang tua merupakan petunjuk yang paling baik mengenai apa yang terjadi pada si anak.

            Buku yang di tulis oleh Julie Gregory ini mengajak kita mengintip dunianya yang penuh dengaan kengerian dan nyaris tidak bisa di percaya. Buku ini menuntut perjuangan Julie , kekuatannya,ketakberdayaannya,kehancurannya dan proses penemuan dirinya serta kekuatannya untuk melepas diri dari kegilaan ibunya dan menggapai kebahagiaan atas puing masa lalu yang mencekam. Telaah yang begitu rinci membuat si pembaca akan mudah memahami isi ceritanya, berbagai gambar serta bukti catatan medis juga menjadi kekuatan dalam buku ini, alur yang runtut dan gaya bahasa yang ringan memudahkan si pembaca dalam membaca cerita ini, dan buku ini layak di jadikan rujukan untuk pembaca yang ingin lebih mengetahui tentang Munchausen by proxy.
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

catatan pendek novel kubah hati yang terkoyak oleh yudi sumardi

Pemuda itu bernama Arin, sosok yang sudah di kenal baik oleh masyarakat bantaran sungai Bengawan Solo Bojonegoro, wajahnya rupawan juga budi luhurnya. Banyak yang sudah mengakui hal itu termasuk Gumay sahabatnya.
                Pagi itu gumay terlihat sedang berbicara serius dengan Arin, dia berencana meminta bantuan pada Arin untuk membuat sebuah pesta  menyambut teman-teman Gumay yang berasal dari kota,
                “Ayolah Rin,masak kamu nggak mau?” rengek Gumay pada Arin
                “Bukannya aku tidak mau May, tapi kau tau sendiri bukan keadaan  keluargaku, apakah pantas aku membantumu membuat pesta,sementara keadaan keluargaku sedang susah?”
                “Ah terserah,pokonya kamu harus bantu aku.”
                “Ya sudahlah,mau tak mau aku harus membantumu.”
                 Pagi itu Arin berangkat kesiangan, langkah Arin semakin cepat,keringat telah bercucuran di sepanjang tubuh semampainya, sesekali tangannya mengelap keringat yang terus meluber dari tubuhnya, dan akhirnya ia pun tiba di sekolah,meskipun ia terlambat masuk sekolah.
                “Eh dari mana kamu, baru nongol jam segini?”  Tanya Riska teman sebangkunya
                “Ah nggak kok, lagi ada sedikit masalah.”
Tiba-tiba bu Rahmi datang dan memberitahu pada semua murid jika ada seorang murid baru yang akan bergabung di kelas mereka
                “Anak-anak kenalkan ini teman baru kalian.”  Ucap bu Rahmi
                “Baiklah Azizah kamu boleh mengenalkan dirimu pada teman-teman barumu.” Tambah pak kepala sekolah
                “Nama saya Azizah, lengkapnya Lailatul Azizah Ramadhani, saya berasal dari selatan Bojonegoro.”
Semua siswa bersorak,sementara pak kepala sekolah dan bu Rahmi pergi untuk ke pendopo kabupaten menghadiri sebuah rapat.
                Hari-hari berlalu dan membuat Arin semakin dekat dengan Azizah, dan membuat Arin mulai menaruh hati pada wanita berwajagh cantik itu,begitu pun sebaliknya Azizah juga semakin tertarik dengan Arin saat pertemuan pertama mereka.
                Siang ini Arin Nampak tergesa-gesa menuju ke gubuk tempat biasa ia dan Gumay bertemu, Arin memang sudah membuat janji dengan Gumay untuk bertemu dan membahas mengenai pesta penyambutan teman-teman Gumay.
                “Maaf may, telat.” Sapa Arin dengan nafas yang masih terputus-putus
                “Kamu dari mana?” Tanya Gumay sinis
                “Aku tadi ke rumah sakit, bapakku jatuh dari genteng saat membnerkan anten tetangga.”
                “Lalu gimana keadaan bapakmu? Kenapa pula kamu malah kemari?”
                “Aku kan sudah berjanji padamu May, janji itu tak boleh di ingkari.”
                “Sudahlah, ayo ku antar kau kerumah sakit.”
                Beberapa hari kemudia pesta itu di mulai, teman-teman Gumay sangat menyukai acara yang telah di susun oleh Arin, terlebih ide Arin yang sangat cemerlang mengenai arisan pengadaan penghijauan di kawasan bantaran sungai bengawan solo,namun hari itu pula Arin harus menerima kenyataan jika ayahnya kang Akhsim telah meninggal dunia, akibat insiden jatuh dari atap rumah tempo hari. Kini kehidupan Arin dan ibunya bertamabha susah saja, apalgi saat ini Arin sudah naik ke kelas 12.
                Siang itu hujan turun sangat deras, dan menandakan akan terjadi banjir bandang, Arin dan ibunya memutuskan untuk mengungsi di rumah saudara mereka  yang bernama Rindri, namun saying ketika sampai di tempat itu Rindri telah pergi dan mengosongkan rumahnya, tapi ada seorang tetangga Rindri yang berbaik hati kepada bu Hanifah dan Arin, Bu Ratna lalu menawarkan tempat tinggalnya untuk di huni sementara oleh mereka. Menurut cerita bu Ratna, adik ipar bu Hanifah itu merantau ke batu Ampar untuk mencari penghidupan yang lebih baik.
                Hari demi hari berlalu, menurut pemberitaan banjir itu telah menenggelamkan rumah bu Hanifah hingga setinggi dada orang dewasa. Nanar rasanya bu Hanifah meratapi takdir yang membelenggunya, ia lantas berdoa pada Tuhan agar banjir itu segera surut.
                Tak terasa sudah satu bulan bu Hanifah tinggal di rumah Bu Ratna, Arin sudah terlebih dahulu kembali ke Bojonegoro karena sebentar lagi ia akan mengahadapi ujian kelulusan kelas. Sementara bu Hanifah tetap tinggal di rumah bu Ratna. Pagi itu bu Ratna mengajak bu Hanifah ke Surabaya untuk belanja pakain yang akan di jual bu Ratna, tapi bu Ratna malah membawa bu Hanifah ke tempat prostitusi dengan dalih akan mempekerjakan bu Hanifah yang memng saat ini sedang mencari perkerjaan sebagai tukang sablon di sana.
                Bu Hanifah sama sekali tak curiga dengan bu Ratna, hingga suatu hari bu Ratna mendapat surat dari Rindri, bu Hanifah yang penasaran mencoba menyelidiki surat itu, dan di dapatilah kebohongan Rindri tentang keberadaannya yang ternyata berada di daerah Malang, bukannya di Batu Ampar, dengan sabar bu Hanifah menjelaskan tentang keberadaan Rindri selama ini, bu Ratna akhirnya sadar selama ini telah di tipu oleh Rindri, ia pun akhirnya meminta maaf pada bu Hanifah.
                Pagi itu bu Hanifah kembali ke Bojonegoro, dia sudah sangat rindu pada Arin anakanya. Setelah Arin lulus, ia dan bu Ratna memutuskan untuk pindah ke Surabaya dan menetap di sana, kebetulan Arin mendapat beasiswa dari sebuah perusahaan farmasi agar ia melanjutkan sekolahnya di Surabaya,  di kota itu bu Hanifah bersama Arin memulai kehidupan barunya, dengan membuka usaha warung  keremes ayam kampong, bu Hanifah berusaha memenuhi kebutuhan hidup mereka. Semakin hari  warung yang di kelola bu Hanifah semakin ramai pula, hingga tak terasa hamper 4 tahun mereka menetap di sana, sebentar lagi Arin akan lulus dan di wisuda.
                Sebelum lulus Arin akan di kirim ke Medan untuk menjalani training selama 3 bulan, ia harus meninggalkan bu Hanifah, Ratih sang kekasih dan sahabat-sahabatnya. Di  perusahaan farmasi tempatnya magang, Arin banyak tak di sukai oleh karyawan setempat, mungkin karena ia adalah anak baru yang sangat di banggakan oleh atasan mereka, namun inilah ketabahan dan kesabaran luar biasa yang d tunjukkan oleh Arin, hingga ia pun dinyatakan lulus training  dan akan di terima di perusahaan itu setelah ia di wisuda.
Arin bahagia karena ia telah kembali ke Surabaya dengan perasaan yang membuncah di dadanya, namun sekali lagi kebahagiaannya telah sirna karena sang kekasih hati telah meninggalkannya untuk menikah dengan pria yang sangat di kenal oleh Arin, sekali lagi mungkin Arin adalah manusia yang luar biasa sabarnya, ia sama sekali tak menuntut bahkan marah, denga segenap kemampuannya ia mengiklaskan Ratih untuk orang lain, sama seperti saat ia mengiklaskan Azizah yang pergi sesaat setelah dia bertemu dengan Azizah yang sempat bekerja di  sebuah warung makan tempat ia dan ibunya makan dulu.

                Wisuda yang sangat di annti Arin pun tiba, ia adalah lulusan terbaik dengan segala prestasi yang telah di raihnya, IP yang mencapai angka 3,98 nyaris sempurna bukan. Dengan segenap perasaan Arin berdiri memberikan pidato kelulusan, yang juga di hadii oleh ibunya, bu Hanifah manusia yang berdiri di balik kesuksesan Arin. Bu Hanifah tersenyum bangga pada Arin, yang saat ini telah membuat hatinya berbunga dan bahagia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

selembar kertas contekan

First Winner of FLS2N Cipta Puisi Bojonegoro 2014


SELEMBAR KERTAS CONTEKAN
Selembar kertas contekan
Menatapku dengan tajam
Terbayang olehku
Kursi penguasa, raja aku di kelas
Haruskah berganti
Di lembar jawabanku?
                Selembar kertas contekan
                Melambai-lambai menertawakanku
                Bila ku pakai
                Berbohonglah aku pada kebenaran
                Bila tak ku pakai
                Takutlah aku pada kegagalan
Selembar kertas contekan
Hadirkan siksaNya kelak
Membawaku dalam lembah kebohongan
Dan membuat jemariku bergetar
Haruskah tetap berganti
Di lembar jawabanku?
                Selembar kertas contekan
                Membawaku dalam pusat keramaian bianglala
                Bila tetap ku pakai
                Akan melatihku
                Menjadi penguasa tanah angling dharma
                Yang bermata hijau
Selembar kertas contekan
Layaknya seorang sinden bersusuk
Dengan gencu dan sempur
Begitu memikatku
Menari dengan lentik jemarinya
Dan mengajakku berjoget
                Selembar kertas contekan
                Bagaikan lembaran dolar
                Mengejekku dengan angkuhnya
                Membuat naluriku berlutut
                Tersudut, terdampar aku
                Akan kenikmatan belaiannya
Selembar kertas contekan
Menarik saraf-saraf rasaku
Memaksaku tuk bersemayam di lembar jawabanku
Namun, aku pun takkan goyah
Selembar kertas contekan
Ku hancurkan lantas terdampar di laci mejaku

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Catatan Pendek Novel Burung-Burung Manyar

Capen dari novel Burung-Burung Manyar karya Y.B Mangunwijaya
Aku adalah anak kolong ya anak kolong, keturunan ningrat jawa. Mamiku bernama Marice seorang Indo Belanda, dan papiku bernama kaptain Brajabasuki seorang kaptain KNIL keturunan ningrat Jawa. Sebagai seorang anak kolong, aku hidup seenakku saja, memusuhi bangsa sendiri, bukan karena apa-apa terlebih karena dendamku pada Jepang sialan itu, yang membuat kehidupan keluargaku hancur Jepang menangkap papiku dan menjadikan ibuku lonte . beruntung aku masih memiliki keluarga Antana yang sudah menganggapku sebagai bagian dari mereka, terlebih lagi bu Antana, yang sudah ku anggap pengganti mamiku yang malang itu, dan juga Atik, satu-satunya wanita yang menjadi penyemangat hidupku, bah barangkali aku mencintainya.
Sepeninggalan mami, dan kabar yang ku terima dari bu Antana jikalau mamiku itu telah meninggal karena penyakit tifus,serta ketidak jelasan nasib papiku, akhirnya aku ikut bersama Verbuggen, bajingan KNIL yang merupakan mantan kekasih mamiku, benar dia bajingan tapi dia baik padaku, aku heran mengapa mami lebih memilih papi yang tampangnya seperti orang bloon itu. Aku menemui Verbuggen dengan membawa sepucuk surat dari mami
“Zo,zo Leo (aku mengaku sebagai Leo) jadi kau membawa surat dari Merice? Apa isinya?”
“Silahkan buka sendri Mayoor. Maaf saya pinjam golok.” Aku lantas membuka kancing celananku dan mengeluarkan seikat kertas lalu ku serahkan padanya. Bandit tua itu berbaik hati padaku, ia mengabulkan permohonanku untuk menjadi anggota KNIL dengan pangkat Kaptain.
Kala menjadi kaptein KNIL aku sering mengunjungi rumah Antana yang ada di daerah Kramat, ya rumah penuh kenangan ini sudah terlihat kosong, ah rasanya aku merindukan Atik, tapi mengingat aku dengannya adalah musuh, musuh dalam arti berseberangan pendapa, Atikku kini sudah menjadi sekretaris kabinet Syahrir, namun suatu saat akan ku buktikan jika akulah yang benar, mereka telah merebut Atikku dan menghasutnya. Toh pada akhirnya kebiasaanku itu di ketahui pula oleh NEFIS dan tentu saja bandit Verbuggen itu, tapi dia juga tak menyalahkanku, malah ku rasa dia mendukungku untuk bertemu kembali dengan Atik.
Saat terjadi perang kekuasaan antara Indonesia dan Belanda di Yogya, pak Antana terbunuh, malang benar nasibnya itu, tentulah pula sangat kasihan Larasati. Oh ya perlu di ketahui bu Antana merupakan keturunan ningrat pula, sudah barang tentu mereka berlindung di keraton di rumah kakak tirinya yang seorang pangeran itu.
Akhir-akhir ini ku tangkap gelagat aneh dari Verbuggen, dia sering pergi sendirian mengendarai jip menuju daerah Magelang, bukankah tidak baik jikalau seorang Mayoor sering pergi sendiri di saat perang seperti ini, tanpa banyak pikir suatu hari ku ikuti Verbuggen dengan Jip juga, hingga akhirnya ku ketahui dan dia sendiri yang mengatakan padaku jika mamiku masih hidup, dan parahnya Jepang sialan itu membuat mamiiku gila, ya mami di tempatkan di sebuah rumah sakit saraf dengan di rawat seorang dokter yang sudah tua. Oh mamiku yang malang, mami hanya dapat mengucapakan kata “ Aku sudah berikan segalanya, tapi mereka mengingkari janji” berulang kali mami hanya mengucapkan itu, hatiku hancur melihat mami semalang itu, benar-benar kurang ajar Jepang sialan itu.
Sudah sekian lama aku tak pernah bertemu dengan Atik,seperti apa rupanya saat ini? Aku ya aku adalah sorang bandit KNIL pecundang yang tak berdaya untuk menemui Atik. Bahkan setelah Belanda kalah aku lebih memilih pergi ke luar negri dan meneruskan kuliah di Harvard, mamiku telah meninggal beberapa tahun yang lalu, begitu pula Verbuggen, dia gugur di medan perang.
Oh ya, aku menikah dengan seorang wanita bernama Barbara, dia adalah anak bosku di perusahaan minyak Pacifik Oil Wells Company, sebenarnya aku menikahi wanita itu bukan karena cinta, tapi ya untuk status saja, sebab tentulah cintaku hanya untuk Larasati. Pada akhirnya Barbara menyadari juga, jika ia telah hidup dengan seorang robot matematik bernama Dr. Setadewa, maka berkahirlah pernikahanku dengan Barbara yang baru berumur 1 tahun itu.
Aku kembali ke Indonesia dan mondok di rumah seorang ningrat yang baik hati di daerah magelang. Suatu hari aku mendengar Larasati akan di anugerahi gelar doktoranda, maka pada acara pemberian gelar itu aku menghadirinya, awalnya aku ingin menemuinya, tapi niat itu ku urungkan setelah ku dengar jawabannya yang sangat cerdas tentang ilmu biologi terutama burung manyar. Atik kini telah menikah dengan seseorang yang bernama Janakatamsi dan memiliki 3 orang anak.
Pada suatu hari atik dan suaminya datang ke tempat mondokku, dia memelukku dan seolah merindukanku, Atik menangis sejadi-jadinya di pelukanku, suaminya begitu baik mengizinkan Atik untuk memelukku. Atik dan Janakatamsi yang akhirnya ku panggil dik Jana, mengajakku untuk tinggal di rumahnya, aku tak dapat menolak, dan menurut kemauan mereka.
Suatu hari aku di panggil ke Jepang dan di pecat dengan tidak hormat dari pekerjaanku, sebab ya aku bersama dik Jana membongkar praktik kejahatan komputer yang merugikan bangsa ini,sebagai seorang ahli komputer tak tegalah ku lihat kejahatan mereka, begitu pula dik Jana dia juga di berhentikan dari semua pekerjaannya di salah satu Universitas swasta, maupun di laboraturium Geologi.
Barangkali saat itu adalah percakapan terakhirku dengan Atik
“Mas Teto untung ya kita bukan suami istri.”
“Kau omong aneh apa lag?”
“Tidak,kalau suami istri itu datar-datar saja. Kalau mencintai yang bukan suaminya kok lebih hebat rasanya.”
Ya ku ketahui juga ternyata selama ini Atik mencintaiku, dia menungguku tapi karena kebodohanku dia menikah dengan lelaki lain, mungkin sama denganku untuk mencari status,cinta Atik pada akhirnya hanya untukku pula, begitu pun aku. Hingga Atik dan dik Jana meninggal dalam perjalanan Haji, karena kecelakaan di gunung Colombo. sejak saat itu aku mengadopsi ketiga anak Atik, Teto, Padmi dan Kris, aku berterimakasih pada Atikku telah menghadiahiku anak-anak yang baik itu, ku rasa mereka membutuhkan sosok ibu baru seperti yang di anjurkan oleh sahabatku John Britney, tapi bu Atana sudah cukuplah menjadi nenek sekaligus ibu bagi mereka. Ku akui citra Atik masih sangat dalam di sejarah hidupku, hal yang ingin ku tanyakan pada burung-birung manyar. Sayang sudah jarang ku lihat mereka……

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS